Minggu, 30 Oktober 2011

Penjara di Kampus Biru

Penjara di Kampus Biru
Oleh: Koko Wijayanto
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada


            HASIL perbincangan beberapa mahasiswa diskusi pesimis menanggapi kebijakan kampus UGM. Demikian benang merah yang dapat ditarik dari beberapa opini mahasiswa disela istirahat kuliah, Jumat (15/10) saat melakukan Focus Disscusion Grup (FGD). Azami salah satu mahasiswa peserta diskusi, mengungkapkan pendapat, “Sekarang UGM ini milik siapa?”. Dibalik ucapan yang dilontarkan, terpancar makna ambigu yang berusaha menutupi rasa kekecewaan atas kebijakan kampus.

Membicarakan beberapa keluhan dari berbagai mahasiswa yang saat ini hangat dilontarkan, pedas kiranya opini yang keluar dari mulut-kemulut. Hal ini bersandar pada beberapa kebijakan kampus yang terasa menuai controversial di kalangan mahasiswa. Masih dalam konteks yang sama, diberlakukan kebijakan jam malam untuk aktifitas warga kampus kiranya juga menjadi beban untuk mahasiswa untuk melakukan kegiatan ekstra. Disamping sisi, kebijakan KIK (Kartu Identitas Kendaraan) kian memberatkan beberapa pihak. Antara lain, mahasiswa, karyawan, juga warga masyarakat di sekitar kampus.

Bukan memaparkan problema kampus, miris memang, “Kampus UGM dulunya dikenal dengan kampus kerakyatan. Sekarang, rakyat yang mana?!” ujar Prof. Dr. Tadjuddin Noer Effendi dalam kuliah di jurusan sosiologi. Sedikit melihat beberapa tahun lampau, dulunya masyarakat umum bebas keluar-masuk untuk melakukan aktifitas di dalam kampus. Diantaranya berdagang jajanan pasar, olahraga, hingga sekedar lewat menikmati pemandangan bangunan megah di dalam kampus. Namun sayang, saat ini kebijakan kampus telah merampas kebebasan mereka. Bukan hal yang utopia, kegiatan yang dulu pernah ada kini hanya menjadi kenangan.

Sayangnya, dengan kebijakan yang diterapkan, justru menimbulkan kesenjangan diantara warga kampus sendirinya. Bukan sebaliknya, yang semakin memperkuat sosial solidaritas diantara warga. Perlu diketahui bersama bahwa, kebijakan yang diterapkan di kampus mempunyai beberapa tujuan yang baik untuk kedepannya. Kiranya, dengan adanya beberapa program dapat mewujudkan keamanan dan kebersihan di lingkungan kampus. Lebih baik dari itu, program pengembangan kawasan educopolis di UGM bertujuan mengurangi adanya kebisingan dan polusi asap di lingkungan kampus.

Refleksi perbedaan pendapat yang terjadi, tentu dapat ditengahi dengan beberapa solusi yang mendorong munculnya faktor-faktor dukungan dari berbagai kalangan. Baik dari kalangan dosen, mahasiswa, sekalipun warga sekitar masyarakat yang dapat menjadi roda tercapainya tujuan-tujuan bersama. Berdampingan dengan itu, alternatif solusi yang dapat ditawarkan adalah dengan mengadakan sosialisasi visi misi kebijakan di warga kampus maupun lingkungan kampus. Dengan demikian, salah paham di beberapa kalangan dapat diredam.

Sebelum pengambilan keputusan, tentunya dapat dilaksanakan dengan cara musyawarah yang melibatkan perwakilan dari berbagai kalangan. Dengan demikian, kerjasama demi mencapai sebuah visi misi dapat diwujudkan bersama. Selain melakukan musyawarah dan sosialisasi kepada warga kampus maupun lingkungan, dukungan sarana-prasarana juga dapat menjadi solusi tersendiri atas beberapa kebijakan yang ada.

Misi yang diambil tentu memiliki cita-cita kedepannya. Universitas Gadjah Mada adalah salah satu lembaga perguruan tinggi ternama di Indonesia yang dikenal dengan kampus kerakyatan. Menurut history, kampus yang berdiri di tengah kota Yogyakarta adalah hasil dari dukungan serta perjuangan masyarakat luas dalam memajukan pendidikan. Oleh sebab itu perlu disadari bersama, kesenjangan yang dapat menimbulkan konflik hanyalah kesalah pahaman semata. Lebih baik dari itu, jika kebijakan dapat diwujudkan bersama, bukan tidak mungkin hal ini mudah terwujud dalam proses pencapaiannya. Kendati demikian, dengan impian yang sama dalam kemajuan kampus, perlu adanya gotong royong serta dukungan dari berbagai kalangan dalam pencapaiannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar