Minggu, 20 November 2011

Pengantar Pemikiran Friedrich Nietzsche


Friedrich Wilhelm Nietzsche
Oleh: Koko Wijayanto
Universitas Gadjah Mada


Pengantar Pemikiran Friedrich Nietzsche
Dunia ini adalah kehendak untuk berkuasa – dan tidak ada yang lainnya! Kaulah sendiri yang menjadi kehendak untuk berkuasa ini – dan tidak ada lagi yang lainnya![1]
            Dari kalimat tersebut sedikitnya adalah salah satu kalimat pengantar untuk mengenal sosok yang controversial bernama lengkap Friedrich Wilhelm Nietzsche. Seperti dikenal oleh beberapa orang, sosok Nietzsche dikenal dengan pemikiran yang sangat unik dalam menanggapi fenomena kemanusiaan yang terjadi pada era abad ke-18. Dalam beberapa sumber tertentu sosok Nietzsche dikenal dengan pengaruh radikalnya. Oleh beberapa sebab, karya-karyanya bersifat ambiguitas dalam menanggapi fenomena kemanusiaan yang terjadi. Dari buah karyanya, Nietzsche menjadi orang yang berpengaruh pada pemikiran post-moderenisme. Dibalik itu, seperti yang tampak dalam sifat ego Nietzsche, filsafatnya juga salah satu pendobrak awal pemikiran eksistensi yang dikembangkan oleh para tokoh-tokoh kontemporer.

Filsafat Nietzsche merupakan filsafat yang menyuburkan pemikiran independent. Dari beberapa karya Nietzche telah memberi bukti bahwa Nietzsche mempunyai maksud tujuan yang secara tidak langsung telah dirasakan saat ini mempengaruhi pandangan dunia dalam pemikiran anti-idealisme. Dapat dikatakan, sebagian besar filsafat Nietzsche masih bisa ditemukan bahkan bisa dikembangkan sampai dekade ini. Disamping sisi, pemikirannya lebih bersifat rasional. Akan tetapi, adapun faktor yang mendorong Nietzsche berfikir dan mulai menuliskan karyanya yang idealis juga tidak lepas dari kehidupannya yang keras-problematis. Dengan filsafat yang dipandang relevan saat ini, menjadi salah satu factor yang menjadi pendobrak karya-karya Nietzsche diterbitkan secara anumerta.
Dengan kecermatanya menanggapi problema kehidupan, ia berusaha untuk menanggapi segala fakta sosial[2] yang terjadi di kehidupannya dengan kesadaran yang bisa diterima dengan akal. Adakalanya untuk mengenang akar filsafat Nietzsche yang juga berhubungan erat dengan pemikiran Descartes. Descartes adalah salah satu tokoh pembangkit filsafat pada abad pertengahan dengan deklarasinya yang terkenal dan mendarah daging di dunia ilmu pengetahuan sosial dengan bahasa latin “Cogito Ergo Sum” (saya berfikir maka saya ada). Dari deklarasi Descartes, mulailah bergejolak suatu zaman pencerahan yang mendasarkan pada penalaran-rasionalitas. Selanjutnya, hal ini diperkuat oleh beberapa pendapat cendekiawan Inggris yang merespon kebenaran pemikiran Descartes. Mereka menyimpulkan bahwa pengetahuan yang mereka gunakan selama itu lebih bersifat experience (pengalaman) bukan didasarkan pada reason (penalaran). Atas anggapan kebenaran ini sosok Nietzsche berkembang menjadi sosok pemikir yang mandiri dalam menaggapi fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya.

Dalam beberapa karyanya Nietzsche adalah sosok yang memperlihatkan betapa ia tak mempunyai rasa takut sedikitpun dalam berkarya, sehingga pada akhirnya ia tak khawatir melepaskan boomerang yang pada ujungnya bisa membaliknya juga bisa hancur oleh karna kata-katanya sendiri.

Karya-Karya Utama (Anumerta)
The Birth of Tragedy (1871),
Human, All-Too-Human (1878),
Thus Spoke Zarathusta 1-4 (1883-5),
Twilight of the Idols (1888),
Ecce Homo (1889).


Kehidupan Sekilas Nietzsche
Friedrich Wilhelm Nietzsche dilahirkan pada tanggal 15 Oktober 1844 di Saxony, Prusia. Ayahnya adalah seorang pendeta Lutheran, Ludwig, yang meninggal pada tahun 1849 dalam usia 36 tahun setelah menderita sakit jiwa selama satu tahun.[3] Dibalik itu, lima generasi keluarga Nietzsche telah menghasilkan 20 Pendeta. Keluarga Nietzsche adalah keturunan dari Aristokrat Polandia. Sedikit menceritakan tentang kakek Nietzsche bernama Friedrich August Ludwig (1756-1826)[4], ia adalah seorang pendeta terkemuka, hingga pada tahun 1796, Friedrich August Ludwig di anugrahi gelar doktor kehormatan yang diberikan oleh Universitas Koenigsberg atas pembelaanya terhadap agama yang dianutnya yaitu Kristen, kakek Nietzsche diberikan gelar kehormatan oleh karena merespon dan mengupayakan redanya kekacauan spiritual yang terjadi akibat Revolusi Prancis.

Nietzsche muda terlihat berpembawaan serius dan berwibawa, seakan-akan ia mempunyai tanggung jawab penting dalam hidup. Dengan kata lain, Nietzsche muda dikenal dengan sosok yang karismatik. Selain karismatik yang nampak sejak kecil, Nietzche juga seorang anak yang sangat religious kala itu. Ketika dia berumur 6 tahun, setelah ayahnya meninggal akibat penyakit yang di katakan dokter mengenai kegilaan ayahnya disebabkan oleh “melemahnya otak”. Sejak saat itu, Nietzsche dibesarkan oleh ibunya di Naumburg. Dalam lingkungan tempat tinggal Nietzsche, sebagian besar penghuni lingkungan tersebut adalah wanita. Nietzsche sangat dimanja di lingkungan tempat tinggalnya hingga ia dijuluki “pendeta kecil”. Ia dikenal di lingkungannya sebagai anak yang sangat cerdas, hingga pada akhirnya ia mulai merenungkan tentang kehidupan dirinya sendiri.

Dalam renungan Nietzsche, ia memikirkan tentang pemberontakan atas dirinya sendiri. Dari awal gejolak pemikirannya yang lebih bersifat akal dari buah pemikirannya, ia merasakan mempunyai keganjilan yang mengganggu hidupnya. Hingga pada ia berumur 18 tahun, ia mulai meragukan imannya. Pemikiran ini timbul atas dasar dirinya sendiri dan tidak dipengaruhi oleh para tokoh pemikir manapun. Dari anggapan kebenaran yang bersifat objektif inilah Nietzsche menjadi salah satu tokoh pemikir yang mandiri dalam beberapa karyanya.

Tahun 1858, ia masuk sekolah asrama di Pforta, dan memperoleh nilai tinggi dalam bidang agama, sastra Jerman, dan zaman klasik, tetapi kurang bagus prestasinya dalam bidang matematika dan menggambar.[5] Nietzsche kuliah di Universitas Bonn untuk mempelajari teologi dan filologi klasik, dan mempunyai tujuan awal inggin menjadi Pastur. Dibalik itu, sebenarnya nasibnya tidak lepas dari pengaruh para perempuan yang mengasuh Nietzche muda, mereka menginginkan Nietzche untuk menjadi Pastur. Di dalam pikiran alam bawah sadarnya ia mulai mengalami dorongan untuk memberontak. Dalam menghadapi tekanan yang diberikan oleh orang-orang yang penting di sekelilingnya tempo dulu, hal ini mendukung karakter Nietzsche untuk berubah menjadi sosok yang tak dapat diduga oleh para pengasuhnya.

Sebelum sampai di Universitas Bonn, sosok Nietzsche adalah sosok penyendiri. Hingga pada akhirnya ia menjadi sosok mahasiswa yang suka bergaul dengan teman-temanya. Lalu, ia juga bergabung dengan kelompok yang berbeda dalam dunia Nietzche sebelumnya. Ia mulai ikut minum-minuman beralkohol dengan teman-temannya, bahkan juga suka berkelahi. Hingga pada akhirnya ia mengalami cedera usai bertengkar dengan seseorang. Akan tetapi, luka goresan yang membekas pada hidungnya pada akhirnya tertutup oleh ganggang kacamatanya. Setelah mendapatkan luka itu Nietzsche pun mengambil keputusan untuk berhenti dalam kelompok anarkisnya.

Sejak tahun 1889, ia mengalami gangguan mental yang tak bisa disembuhkan di Turin. Ketika sedang berjalan-jalan ia tersungkur dengan lengan yang merangkul erat leher kuda. Kemudian ia dibantu untuk masuk kembali kedalam kamarnya. Kemudian ia juga sempat menulis beberapa kartu pos untuk beberapa orang penting yang pernah dia kenal. Dapat dikatakan sementara, Nietzsche telah mati secara pikiran tahun 1889.

Secara klinis Nietzsche sudah tak waras lagi, Hampir bisa dipastikan penyakit yang dideritanya tidak dapat disembuhkan lagi. Akhirnya pada tanggal 25 Agustus 1900 Nietzsche dalam asuhan adik perempuannya (Elisabeth) meninggal di Weimar. Faktor utama penyebab kematiannya adalah penyakit yang sudah sekian lama menggerogoti tubuhnya. Sejak kematiannya, Elisabeth mulai membenahi catatan-catatan Nietzsche yang kemudian di edit oleh Walter Kaufman. Akhirnya buku itu dapat diterbitkan sebagai “The Will to Power” yang dianggap hingga saat ini adalah karya terbaik dari Nietzsche.

Konsep Inti Karya Nietzche
            Untuk mengetahui tema inti dari beberapa karya Nietzsche yang fenomenal hingga saat ini, adapun konsep kunci dalam tulisannya yang menempati posisi terpenting juga sering disebutnya dalam beberapa tulisannya. Di sisi lain, yang harus diketahui dalam beberapa tulisan Nietzsche tidak menggunakan gaya metodis (bersandarkan metode; dengan pola teratur). Dengan sikapnya yang konsisten ‘idealisme’ sampai pada akhirnya beberapa buah karya Nietzche berkembang keberbagai arah. Dengan ‘idealismenya’ ia telah membuat contoh tulisan yang tidak terpaut oleh budaya dan bukan pula masuk pada ranah sistem sosial masyarakatnya. Oleh karnanya, beberapa karya Nietzsche dapat ditemukan beberapa kata yang di ulang-ulang. Secara tidak langsung, karya-karya Nietzsche telah memiliki konsep metode maupun memiliki polanya sendiri.

The Will to Power
            Konsep terpenting dalam buah karya yang melekat erat dalam beberapa tulisannya adalah “will to power”. Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa Nietzsche mengembangkan konsep inti dari Schopenhaur dari kehidupan Yunani kuno yang mengadopsi gagasan-gagasan timur. Berkesimpulan, bahwa alam semesta dikendalikan oleh kehendak buta.[6] Nietzche dalam study mencari gagasan Yunani kuno telah menyimpulkan bahwa kekuatan yang menjadi pendorong peradapan semata-mata adalah langkah untuk mencari kekuatan tertinggi (absolute) dalam mencari sebuah kekuasaan. Hal ini di pertegas Nietzsche yang tertulis dalam buku terjemahan karya Walter Kaufman, dan R.J. Hollingdale sebagai berikut:
Dunia ini adalah kehendak untuk berkuasa – dan tidak ada yang lainnya! Kaulah sendiri yang menjadi kehendak untuk berkuasa ini – dan tidak ada lagi yang lainnya!

Dari kesimpulan Nietzsche mengenai “Will to Power” adalah bahwa manusia terdorong oleh suatu “kehendak untuk berkuasa”. Dengan kata lain, jantung pergerakan tindakan yang dilakukan manusia tidak lepas dari suatu kehendak. Gagasan-gagasan ini juga meliputi beberapa aspek perasaan kerendahan hati, cinta, dan kewelas asihan (keibaan, compassion). Tetapi, fakta yang sebenarnya memperlihatkan bahwa hal ini tak lebih hanyalah suatu penyamaran yang cerdik dari Will to Power.[7] Dengan demikian, suatu konsep “Will to Power” dapat menjadi tolak ukur untuk memahami motif suatu tindakan sosial[8] yang dilakukan oleh seseorang dalam mencapai tujuan tertentu.

Dengan konsep yang berbahaya inilah, pada akhirnya melahirkan para pemikir yang berkutat pada “idealisme” dalam menuliskan buah pikiran maupun dalam tindakannya (tidak lepas dari pengaruh Nietzsche). Hal ini bersandar pada salah satu pendapat Nietzsche, “Sikap mengidam-idamkan kekuasaan telah mengalami berbagai perubahan selama berabad-abad, tetapi sumbernya tetap saja kawah yang sama… Suatu yang pada zaman dahulu dilakukan orang “demi Tuhan”, sekarang ini kita lakukan demi uang… inilah yang saat ini menciptakan kepuasaan terutama atas kekuasaan.” (Die Morgenrote, The Dawn, 204).

The Superman
Apa yang dimaksudkan Nietzsche mengenai “manusia super” bukanlah sesosok Supermen yang ada pada tataran fiksi dalam beberapa film maupun juga kartun yang ada saat ini. Adapun Superman yang dalam tokoh fiksi bisa terbang, memiliki kekuatan, kecepatan dan ketahanan melebihi anak-anak biasa.[9] Hal ini sama sekali tidak sesuai dengan apa yang digambarkan Nietzsche.

Disisi lain, Superman yang dimaksudkan oleh Nietzsche dalam Zarathusta adalah sesosok orang yang menggambarkan dirinya sendiri – merujuk pada tempat dimana ia tinggal di sebuah dunia yang di dalamnya berisi tentang kenaifan. Secara tidak langsung, Nietzsche juga mengemas beberapa karakeristik tokoh yang penuh kesungguhan, dan sangat membosankan. Dalam Thus Spake Zarathustra, Nietzsche menyatakan dengan mengilhami tokoh ciptaannya ini bahwa, “Apa artinya monyet bagi manusia? Sebuah figur yang menyenangkan atau sesuatu yang memalukan? Manusia akan tampil persis seperti monyet di depan Superman.” (Thus Spake Zarathustra, Bagian Pertama, Prolog Zarathustra, Bag. 3).

Dibalik karya Zarathustra, terdapat kisah-kisah perumpamaan yang menabjubkan. Diantaranya kisah Kristus dan Khotbah di Bukit yang di anggapnya sederhana dan kekanak-kanakan. Dibalik cerita itu, sebenarnya sama sekali bukan hal yang sederhana, dan hal ini akan menjadi hal yang sangat mendalam. Itulah pesan yang diamanatkan pada Zarathustra. Adapun salah satu kalimat yang dinyatakan Nietzsche yang tertulis dalam buku Human, All Too Human: “Kepercayaan adalah musuh yang lebih berbahaya bagi kebenaran ketimbang kebohongan.” (Human, All Too Human, Vol I, Bagian 9, h. 483.)

Khotbah-khotbah Nietzsche merupakan perlawanan terhadap nilai-nilai Kristiani: masing-masing individu harus memikul beban tanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya sendiri dalam sebuah dunia yang tak memiliki Dewa atau Tuhan. Seseorang harus menciptakan nilai-nilainya sendiri dengan kebebasan yang tanpa kekangan apa pun. Sebagai akibat dari perbuatannya itu, tak ada yang dinamakan sangsi, akhirat atau apapun yang serupa dengan itu.[10] Dalam ramalan Nietzsche, ini adalah suatu kondisi yang terjadi sejak lama. Begitu beraninya, ia juga mengajukan tulisan yang yang musti dilakukan: “…semua omong kosong Zarathustra akan menjadi Superman.”

Nietzsche menggabungkan Superman dengan maksud-maksud seperti “kemuliaan” dan “asal keturunan”. Dalam menggambarkan tokoh Superman inilah ia tidak menyinggung mengenai ras maupun kebangsaan manapun. Dalam salah satu tulisan, penanya mengacu pada “the Almanac de Gotha: an enclosure for asses” (Will to Power; 942-edisi revisi 1906 atau 1911; di dalam edisi Hartle, catatan ini dibuang, tanpa penjelasan) dan menyatakan dalam bagian lain, “Ketika aku berbicara tentang Plato, Pascal, Spinoza, dan Goethe, aku tahu bahwa darah mereka mengalir di dalam tubuhku” (Edisi Musarion (1920-1929) diambil dari Collected Work, XXI, 98). Dalam pandangan Nietzsche, darah orang Yunani, Perancis, Yahudi dan Jerman adalah darah leluhur yang mengalir dalam tubuh Superman yang diciptakannya. Pasalnya, mereka memandang bahwa rasa tau keturunannya lebih unggul dibandingkan ras manusia yang lain.



[1] Friedrich Nietzsche, The Will to Power, diterjemahkan oleh Walter Kaufman, dan R.J. Hollingdale, New York, Vintage Books, 1968, Sect, 1067, p.550. Penekanan dari Nietzsche.
[2] Baca! Emile Durkheim mengenai “Fakta Sosial”.
[3] John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer, Kanisius, Yogyakarta, 2001, h. 329.
[4] Marc Sautet, Nietzsche Untuk Pemula, Kanisius, Yogyakarta, 2001, h. 6.
[5] Walter Kaufmann, Nietzsche, New York, Vintage Books, edisi ketiga, 1968, h. 22.
[6] Paul Strathern, 90 Menit Bersama Nietzsche, Penerbit Erlangga, Jakarta, h. 49.
[7] Ibid, h. 49.
[8] Baca juga! Social Action dan Rasionalitas Max Weber.
[9] J.Com, Super Hero Amerika Misi Penyelamatan Bumi, Multicom, Yogyakarta, 2010, h. 15.
[10] Paul Strathern, op, cit. h. 54.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar